Kompasupdate.id – Kabupaten Konawe Utara (Konut) Sulawesi Tenggara (Sultra), Kini menjadi contoh nyata bagaimana salahsatu organisasi besar partai berlambang pohon beringin bisa terguncang hebat akibat dugaan pelanggaran aturan dan hilangnya demokrasi internal.
Sebut saja partai Golongan Karya (Golkar). Berdasarkan data yang dihimpun di internal partai, Segala masalah bermula dari persiapan pelaksanaan Musda IV Golkar Konawe Utara yang sejak awal sudah diwarnai kecurigaan pelanggaran Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta petunjuk teknis organisasi.
Dari proses penjaringan dan verifikasi sampai pada pemilihan bakal calon ketua DPD ll Golkar Konawe Utara, Diketahui ada lebih dari satu nama yang mendaftar lengkap dan memenuhi syarat. Namun kemudian secara sepihak disinyalir terjadi manipulasi data hasil pemilihan dari 13 Pengurus Kecamatan (PK) se-Kab. Konawe Utara. akibatnya, tersisa satu nama dipersiapkan lalu dipilih secara aklamasi yang dikendalikan penuh oleh panitia 9
Hal itu langsung mendapat respon dan protes keras oleh 10 dari 13 Pengurus Kecamatan (PK) Golkar Konawe Utara. Mereka dengan tegas menyatakan sikap tidak mengakui hasil Musda IV, menolak sahnya ketua yang dipilih aklamasi, dan mengancam jika hasil tersebut tetap dipaksakan dan diakui oleh DPD I Golkar Sulawesi Tenggara maka mereka akan mundur secara massal dan membuka almamater Golkar Konawe Utara
“Kami adalah pengurus yang sah, SK kami masih berlaku, Kami tidak menolak siapapun, kami menolak cara yang salah, Aklamasi palsu ini telah menginjak hak kami sebagai kader, Jika hasil ini tetap dipaksakan dan diakui, maka kami terpaksa membuka almamater dan mundur massal. Kami tidak bisa bekerja di bawah kepemimpinan ketua DPD ll Golkar Konawe Utara yang lahir dari pelanggaran dan kebohongan.” Tegas salahsatu Pengurus Kecamatan yang namanya enggan disebutkan
Ancaman 10 Pengurus Kecamatan Golkar Konawe Utara ini bukan gertakan kosong, melainkan keputusan bulat yang sudah disepakati bersama, didasari rasa kecewa mendalam karena hak dan aspirasinya diinjak-injak.
Ini bukan sekedar perselisihan biasa, melainkan titik balik yang menentukan arah Golkar di daerah ini, Apakah akan tetap berdiri tegak sebagai kekuatan politik, atau hancur berkeping-keping akibat ambisi segelintir orang dengan warna yang berbeda.
Memaksakan hasil tersebut berarti membiarkan perpecahan menjadi permanen, Golkar Konawe Utara terbelah dua. satu kubu pegang surat, satu kubu pegang akar rumput. Di mata publik, ini terlihat memalukan, penuh kepentingan pribadi, dan jauh dari semboyan “Satu Hati, Satu Tujuan”. Nama baik partai yang dibangun puluhan tahun rusak dalam sekejap.
Publik kini menilai bahwa, Seluruh kepengurusan DPD II Golkar Konawe Utara berada di persimpangan jalan yang sangat kritis. Di satu sisi ada upaya mempertahankan hasil yang dipaksakan, di sisi lain ada penolakan keras dari seluruh struktur akar rumput yang menjadi tulang punggung partai.
Pilihan sekarang ada di tangan ketua pengurus DPD I Sulawesi Tenggara, dan DPP Golkar. Apakah mereka akan memilih jalan pendek mempertahankan jabatan tapi menghancurkan partai, Atau memilih jalan panjang, memperbaiki proses, menyatukan kembali keluarga besar Golkar, dan mempersiapkan kemenangan di masa depan.







